"Fakta Saintis Barat"
1. Jarak diantara Nabi Adam dan kita cuma diantara 10000-20000 tahun dan fossil manusia perempuan tertua dijumpai berusia 4.4 juta di Ethiopia.
2. Manusia dahulu hidup bercawat, tidak tahu memasak, bertani dan tinggal didalam gua (tidak bertamaddun).
3. Manusia dahulu tidak mempunyai bahasa dan berpakaian tidak sempurna.
4. Manusia berevolusi melalui pelbagai zamanà ais/batu
Fakta Al-Quran-1
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya". Dan Ia telah mengajarkan Nabi Adam, akan segala nama benda-benda dan gunanya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat lalu Ia berfirman: "Terangkanlah kepadaKu nama benda-benda ini semuanya, jika kamu golongan yang benar". Malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau (Ya Allah)! Kami tidak mempunyai pengetahuan selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami sesungguhnya Engkau jualah Yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana".
Allah berfirman: "Wahai Adam! Terangkanlah nama benda-benda ini semua kepada mereka". Maka setelah Nabi Adam menerangkan nama benda-benda itu kepada mereka, Allah berfirman: "Bukankah Aku telah katakan kepada kamu, bahawasanya Aku mengetahui segala rahsia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?". Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat: "Tunduklah (beri hormat) kepada Nabi Adam". Lalu mereka sekaliannya tunduk memberi hormat melainkan Iblis; ia enggan dan takbur, dan menjadilah ia dari golongan yang kafir.
(Al-Baqarah- Ayat 30-34)
BERDASAR AYAT DIATAS BODOHKAH MANUSIA PERTAMA YG BERNAMA ADAM ITU. KEPANDAIAN BELIAU TENTANG BUMI MELEBIHI MALAIKAT DIATAS KUNIAAN ILMU ALLAH.
Fakta Al-Quran-Kisah Habil dan Qabil
Siti Hawa melahirkan kembar dua pasang. Pertama lahirlah pasangan Qabil dan adik perempuannya yang diberi nama "Iqlima", kemudian menyusul pasangan kembar kedua Habil dan adik perempuannya yang diberi nama "Lubuda". Kerana Qabil tetap berkeras kepala tidak mahu menerima keputusan ayahnya dan meminta supaya dikahwinkan dengan adik kembarnya sendiri Iqlima maka Nabi Adam seraya menghindari penggunaan kekerasan atau paksaan yang dapat menimbulkan perpecahan di antara saudara serta mengganggu suasana damai yang meliputi keluarga beliau secara bijaksana mengusulkan agar menyerahkan masalah perjodohan itu kepada Tuhan untuk menentukannya. Caranya ialah bahawa masing- masing dari Qabil dan Habil harus menyerahkan korban kepada Tuhan dengan catatan bahawa barang siapa di antara kedua saudara itu diterima korbannya ialah yang berhak menentukan pilihan jodohnya.
Qabil dan Habil menerima baik jalan penyelesaian yang ditawarkan oleh ayahnya. Habil keluar dan kembali membawa peliharaannya sedangkan Qabil datang dengan sekarung gandum yang dipilih dari hasil cucuk tanamnya yang rosak dan busuk kemudian diletakkan kedua korban itu kambing Habil dan gandum Qabil di atas sebuah bukit lalu pergilah keduanya menyaksikan dari jauh apa yang akan terjadi atas dua jenis korban itu.
BERDASAR KISAH DIATAS MASIH BODOHKAH MANUSIA GENERASI KEDUA SEHINGGA MEREKA MAMPU MENTERNAK HAIWAN DAN TERLIBAT DIDALAM BIDANG PERTANIAN GANDUM? BUKANKAH ITU HASIL DIDIKKAN ILMU DARI MANUSIA PERTAMA YAKNI NABI ADAM A.S YG JUGA MENDAPAT ILMU DARI ALLAH S.W.T JUGA.
Fakta Hadis al-Bukhari yang berbunyi : Abu Dzar telah meriwayatkan: saya telah bertanya kepada Rasulullah SAW: "Apakah masjid yang pertama dibina di atas muka bumi ini?, Rasulullah SAW menjawab:
"Masjid al-Haram", saya bertanya lagi: "kemudiannya...", balas Rasulullah SAW:
"Masjid al-Aqsa". Saya bertanya lagi: "Berapakah jarak di antara keduanya (tempoh
dibina kedua-duanya), balas Rasulullah SAW: "empat puluh tahun, di mana sahaja
kamu dapat bersolat pada keduanya, maka bersolatlah (di sana), di sana ada kelebihan
(untuk mereka yang bersolat di kedua-dua masjid tersebut)".
Nabi Adam a.s adalah manusia pertama membina Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa didalam selang waktu 40tahun.
MASIH BODOHKAH MANUSIA PERTAMA ITU WALAUPUN DIDLM ILMU PEMBINAAN.
Fakta Sejarah Islam Nabi Idris dianugerahi kepandaian dalam berbagai disiplin ilmu, kemahiran, serta kemampuan untuk mencipta alat-alat yang dapat mempermudahkan pekerjaan manusia, seperti pengenalan tulisan, matematik, ilmu astronomi.
SEDARKAH PEN, TULISAN, HURUF, ANGKA, DAN ILMU CAKRAWALA ITU ADALAH HASIL TAMADDUN MANUSIA DAHULU LAGI YG KAMU KATAKAN BERCAWAT ITU. MASIH BODOHKAH MANUSIA TERDAHULU ITU?
Sekarang terserah kepada anda sendiri. Fakta mana mahu dijadikan pegangan aqidah/iman. Jika kamu jadikan Saintis Barat kiblat kamu kerana kemampuan mereka menonjolkan teknologi untuk meyakinkan kamu terserahlah. Tapi bagiku, mukjizat AlQuran itu lebih hebat drpd segalanya. Hati hati dengan program National Geography yang terkadang menyesatkan.
http://www.facebook.com/notes/saifol-fairuz/fakta-saintis-barat
..:ALLAH BERKUASA DAN BERHAK KEATAS HAMBANYA:..
"Ya Allah jadikanlah hamba-Mu ini sebahagian daripada golongan orang-orang yang sabar,yang benar,yang tetap taat,yang menafkahkan hartanya(di jalan Allah) dan yang memohon ampun di waktu sahur" surah Al-Imran ayat:17.
Monday, March 26, 2012
Isteriku Menulis di atas PASIR dan BATU ..
Sahabat Hikmah...
Ada sebuah kisah tentang sepasang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras. Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU.
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi. Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis di sebuah batu : HARI INI SUAMIKU YG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Suami bertanya : “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir dan sekarang kamu menulis di atas batu ?”
Istrinya sambil tersenyum menjawab : “Ketika hal buruk terjadi, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu dan aku bisa melupakannya... Dan bila sesuatu yang baik dan luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya di atas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin waktu dan akan kuingat selamanya."
Sahabat Hikmah...
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang malah sangat menyakitkan, oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan melupakan masalah yang lalu. Yang terpenting dari pelajaran ϑî atas, adalah :
"Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR untuk semua hal yang MENYAKITKAN dan selalu MENGUKIR DI ATAS BATU untuk semua KEBAIKAN ...."
Semoga kita semua mengerti betapa berharganya sebuah "KELUARGA”.
(Kiriman dari teman)
OFA
http://kata2-hikmah-ofa.blogspot.com/2011/06/menulis-di-atas-pasir-dan-batu.html
http://kata2hikmah0fa.wordpress.com/2011/06/10/menulis-di-atas-pasir-dan-batu/
Ada sebuah kisah tentang sepasang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras. Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU.
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi. Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis di sebuah batu : HARI INI SUAMIKU YG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Suami bertanya : “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir dan sekarang kamu menulis di atas batu ?”
Istrinya sambil tersenyum menjawab : “Ketika hal buruk terjadi, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu dan aku bisa melupakannya... Dan bila sesuatu yang baik dan luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya di atas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin waktu dan akan kuingat selamanya."
Sahabat Hikmah...
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang malah sangat menyakitkan, oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan melupakan masalah yang lalu. Yang terpenting dari pelajaran ϑî atas, adalah :
"Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR untuk semua hal yang MENYAKITKAN dan selalu MENGUKIR DI ATAS BATU untuk semua KEBAIKAN ...."
Semoga kita semua mengerti betapa berharganya sebuah "KELUARGA”.
(Kiriman dari teman)
OFA
http://kata2-hikmah-ofa.blogspot.com/2011/06/menulis-di-atas-pasir-dan-batu.html
http://kata2hikmah0fa.wordpress.com/2011/06/10/menulis-di-atas-pasir-dan-batu/
Sunday, February 19, 2012
Cinta di Hujung Senja
Amirul mundar mandir di depan pintu bilik sambil tangannya meraut ke wajah. Esakan-esakan kecil kedengaran di cuping telinga. Perasaan yang bercampur baur memenuhi ruang wad. Sudah kali ke berapa Amirul menghela nafas berat. Akhirnya dia terduduk di depan pintu sambil memegang kepalanya.
"Sabarlah, nak. Allah tahu apa yang terbaik buat Hannah. Hannah isteri yang baik. Dan dia dah cukup beruntung sebab dapat suami yang baik macam Amirul," ucapan bapa mertuanya tadi benar-benar terasa bagai halilintar menyapa ke telinga.
"Baik? Ya Allah, manusia hipokrit macam aku ni orang kata suami yang baik?" Amirul terasa ingin menjerit sekuatnya di situ, namun jeritannya hanya kedengaran di dalam hati.
Pintu bilik terbuka. Dr Reza memandang sekeliling dengan sebuah pandangan yang menimbulkan tanda tanya semua orang.
"Doktor, macam mana keadaan isteri saya?" Amirul bertanya dengan nada cemas.
Dr Reza memegang bahu Amirul.
"Keadaan Hannah sangat lemah. Mungkin disebabkan penat dan susah hati. Banyakkan berdoa. Kita harapkan Allah berikan yang terbaik buat dia."
Amirul tergamam.
Esakan mak ayah dan keluarga mertua makin kuat kedengaran. Amirul melangkah longlai ke dalam bilik. Yang kedengaran hanyalah hembusan nafas lemah bidadari yang terbaring lesu di depan mata.
"Duhai hati, kuatlah," bisik Amirul pada diri. Terasa pipinya basah.
Ditatap wajah itu. Wajah yang dulunya sentiasa ceria, bibir yang dulunya tak pernah lekang dengan senyuman namun kini wajah yang sama sudah sedikit pucat, kurus dan cengkung, bibir yang sama sudah sedikit kering dan merekah. Namun ketenangan yang sama tetap bertandang tiap kali memandang wajah isterinya. Ketenangan yang dulunya pernah cuba untuk dinafikan.
Hannah membuka mata perlahan-lahan. Wajah pertama yang dilihat adalah wajah yang begitu dirinduinya. Ya, hanya dia.
.................
Hannah tersenyum sendiri melihat ke jari manisnya.
"Dah jadi isteri orang rupanya aku ni. Alhamdulillah," Hannah tergelak kecil. Tiba-tiba pintu biliknya dibuka. Hannah terdiam. Perasaan berdebar-debar memenuhi dada tatkala Amirul masuk ke bilik.
"Ya Allah, sabar Hannah. Relaks, dia suami kau, lah," Hannah berkata-kata sendiri. Hatinya gundah gulana bila merasakan Amirul makin mendekat. Seorang lelaki yang telah sah menjadi suaminya. Seorang lelaki pilihan ibubapanya. Seorang lelaki yang tidak begitu dia kenal namun dia percaya bahawa pilihan ibubapanya pasti adalah yang terbaik buat dirinya. Dan istikharah cukup membuatkan dia yakin untuk menerima.
"Kau tak payah nak malu-malu lah, Hannah. Aku nak kau ingat satu hal, je. Aku kahwin dengan kau bukan sebab aku nak kat kau. Tapi sebab aku tak sampai hati nak sakitkan hati ibu yang dah berkenan sangat kat kau. Tak tahulah apa ilmu yang kau pakai sampai ibu sayang sangat kat kau ni. Hmm," rengus Amirul keras sambil menarik kasar bantal di atas katil dan menuju ke sofa di dalam bilik.
Hannah tergamam. Senyuman tadi terus hilang. Dia memandang perlahan-lahan ke arah suaminya yang berbaring di atas sofa. Ingin dia berkata sesuatu namun terasa anak tekaknya bagai tersekat daripada berbicara.
"Nanti kau nak tidur, tutup lampu. Aku tak suka tidur terang-terang." Amirul menyambung, "Kau jangan risaulah. Aku takkan sentuh kau. Bukannya cantik sangat pun. Dah lah pakai tudung labuh-labuh, hah! Kolotlah!"
Hati Hannah terusik. Setitis air mata jatuh ke pipi.
Setiap detik bahagia yang diangan-angankannya beberapa hari sebelum perkahwinannya berlangsung tiba-tiba bagai dilemparkan dengan cat hitam. Memadamkan segalanya.
Adakah dia sudah tersalah membuat pilihan? Adakah ketenangan yang terasa selepas istikharah semasa membuat keputusan untuk menerima Amirul adalah satu kesilapan?
"Astaghfirullah..." Hannah segera beristighfar. Syaitan yang datang mencucuk-cucuk untuk membuat sarang dosa.
Hannah menyapu sisa air mata. Dia kembali berfikir secara rasional. Setiap takdir Tuhan telah disusun dengan cukup indah. Setiap apa yang berlaku pasti ada rahsia yang akan tersingkap bila tiba masanya. Setiap dari hamba Allah bakal diuji setimpal dengan kudratnya. Dan Hannah yakin bahawa dia pun sedang diuji Tuhannya.
Mungkin Allah sedang menguji janji yang telah dia buat saat menerima lamaran. Janji pada diri sendiri untuk menjadi seorang isteri yang solehah buat lelaki yang tidak dia kenali dengan rapat. Janji untuk membenihkan perasaan cinta terindah buat lelaki yang halal bagi dirinya setelah dinikahi. Janji untuk bersedia bersabar dengan segala dugaan yang bakal mendatang sepanjang melayari bahtera kehidupan sebuah perkahwinan.
Hannah teringat pesan Kak Asmah ketika dia menceritakan tentang lamaran yang diterima melalui ibubapanya.
"Hannah, nikmatnya bila kita telah dipilih untuk melengkapkan agama dalam usia yang muda. Dan nikmatnya sebuah perkahwinan kerana ianya adalah sebuah lubuk untuk kita menambahkan pahala berlipat kali ganda. Tapi, akak nak Hannah selalu ingat. Bahtera perkahwinan ni sentiasa akan berhadapan dengan ombak yang bermacam-macam kekuatannya. Ada yang lembut, ada yang perlahan, ada yang kasar dan ada jugak yang ganas. Jadi, akak betul-betul harap Hannah bersedia nak hadapi semua ni tak kira bagaimana takdir yang Allah dah susun." Hannah mengangguk perlahan.
" Yang kita kena selalu tanamkan dalam diri adalah bukan meletakkan perkahwinan sebagai sebuah matlamat tapi kita minta pada Allah untuk mudahkan jalan menuju ke Syurga sebab Syurga adalah matlamat terakhir kita. Jika Allah berikan jalan untuk ke Syurga melalui sebuah perkahwinan dan ujian-ujian dalam melayari bahtera perkahwinan, jadi kita kena bersedia menghadapi semuanya dengan harapan akan mampu mencapai Syurga yang Allah dah janjikan. Yakinlah, Allah pasti menetapkan apa yang terbaik buat kita."
Kata-kata Kak Asmah menyapa diingatan. Hannah menarik nafas dalam.
"InsyaAllah, Allah pasti menyediakan apa yang terbaik buatku," Hannah menguatkan hatinya.
/>
Amirul memandang ke arah tingkap pejabatnya. Hari sudah menginjak petang. Staffnya sudah ramai yang pulang tapi hatinya berat untuk bergerak balik. Terasa malas untuk melihat wajah isterinya.
Hannah. Seorang wanita yang sederhana. Sopan santun dan memiliki tutur kata yang lembut. Walaupun wajahnya biasa saja tapi memang Amirul tak dapat nafikan, jauh di sudut hatinya dia tenang melihat isterinya yang bertudung labuh walaupun kurang pandai bergaya. Seorang yang cukup sabar melayan kerenahnya tanpa sedikitpun pernah meninggikan suara padanya. Melawan apatah lagi. Jauh sekali.
Amirul teringat, pernah dia sengaja pulang lewat hampir setiap malam selama seminggu kerana sengaja ingin membuatkan Hannah berkecil hati dan membencinya. Tapi bila sampai di rumah, dia terkejut apabila melihat Hannah masih sabar menunggu di ruang tamu. Dan apa yang terkadang membuat hatinya sedikit terusik adalah bila mana Hannah pasti menyambutnya dengan senyuman yang tak pernah lekang di bibir manis itu.
"Abang dah makan? Hannah ada masak lauk kegemaran abang. Nak Hannah panaskan, tak?"
Amirul merengus kasar. "Kau nak suruh aku makan malam-malam buta ni?! Kalau kau lapar, kau makanlah sendiri!" Amirul terus naik ke tingkat atas menuju ke bilik tanpa menghiraukan isterinya. Hatinya puas kerana berjaya mengherdik Hannah tanpa sedikitpun dia terfikir sama ada isterinya sudah makan atau belum.
Pernah satu masa ketika Amirul sedang menonton TV, Hannah datang sambil tersenyum padanya membawa sepinggan nasi goreng kegemarannya. Isteri yang ingin bermanja cuba untuk menyuap nasi itu ke mulutnya namun ditepis kasar oleh Amirul dan dengan tidak sengaja tertolak pinggan di tangan Hannah. Pinggan itu jatuh dan pecah berderai. Dengan linangan air mata, Hannah mengutip setiap butir nasi yang bertaburan di lantai. Amirul sekadar memandang tanpa simpati.
Amirul bukan saja pernah melukakan hati Hannah secara dalaman. Pernah juga pipi wanita itu ditampar dengan tangan kasarnya dek kerana Hannah bertanya adakah dia sudah solat. Solat? Satu perkataan yang sudah lama dipadamkan dalam kamus ingatannya.
Malam minggu itu, Amirul sedang bersiap-siap ingin keluar bersama kawan-kawan. Hannah yang baru selesai solat Isya' datang mendekatinya.
"Abang nak keluar, ye?"
"Suka hati akulah aku nak buat apa. Yang kau sibuk sangat duk bertanya tu, apehal? Kau bukan mak aku nak sibuk-sibuk sangat!" Amirul rasa serabut. Dia membetul-betulkan rambutnya.
"Em... tiap-tiap malam abang keluar balik lewat malam. Hannah bukan apa, bimbangkan abang. Lagipun..." Hannah teragak-agak. "...abang janganlah cari hiburan pada benda-benda yang Allah tak suka."
Hati Amirul panas. Ditendangnya Hannah dengan perasaan marah bercampur ego yang membuak-buak. Hannah menjerit kesakitan.
"Hoi! Kau jangan nak memandai nak ajar aku apa yang Allah suka, apa yang Allah tak suka! Kau tu ingat kau dah jamin dapat masuk Syurga ke? Duk berceramah je sana sini. Pergi lah jadi ustazah ke, ajar kat masjid tu. Memekak je!" Amirul bersuara lantang. Langsung tak menghiraukan Hannah yang mengerang kesakitan memegang perutnya yang disepak tadi sambil menangis teresak-esak. Terus ditinggalkan Hannah bersendirian.
Walaupun pelbagai kekasaran telah dia lakukan pada Hannah, namun isterinya tetap melayannya sebaik mungkin tanpa sedikitpun menunjukkan riak tanda kebencian. Pernah ibubapa mertuanya datang ke rumah dan Amirul cuba berlagak biasa untuk menyembunyikan kegusaran di hati. Dia tahu Hannah pasti mengadu kepada mertuanya apa yang telah berlaku dalam rumahtangga mereka. Namun sangkaannya jauh meleset. Apabila ditanya, Hannah tersenyum ceria dan berkata dia cukup bahagia dengan rumahtangganya.
Lamunan Amirul terhenti bila handphonenya berbunyi. Nama yang tertera di screen sudah cukup membuat dia terasa bahagia.
Amirul tersenyum menghilangkan bayangan wajah isterinya. Sekarang yang dirindui adalah kekasih hatinya, Ros. Wanita yang benar-benar dia cintai, wanita yang ingin dikahwininya kalau bukan disebabkan tentangan keluarga.
Baginya jika Hannah tidak menerima lamaran daripada keluarganya, pasti lebih mudah untuk umi dan abahnya menerima Ros. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya.
Benar, dia sedar Ros adalah seorang wanita yang kuat bersosial. Dengan memiliki aset wajah yang jelita, Ros adalah seorang wanita yang diidamkan ramai lelaki. Namun, Amirul yakin jika selepas mereka berkahwin, pasti secara automatik Ros akan mengurangkan aktiviti sosialnya. Itu tanggapan Amirul.
"Hello sayang. Jadi tak malam ni kita keluar?" suara manja Ros kedengaran.
"Mestilah jadi. You tunggu I. Dalam setengah jam I sampai. Kat office lagi ni," Amirul membalas sampai menarik tali leher yang terasa rimas.
"Okey, see you later. Love you," Ros menjawab dengan tawa kecil.
"Okey, love you too."
Amirul bangun dan mengambil kunci kereta. Tak sabar ingin bertemu kekasih hati.
.................
Hannah terasa hatinya kurang enak. Entah kenapa dia rasa berdebar-debar ketika menyediakan makan malam untuk suaminya. Jam menunjukkan pukul 11.30 malam. Terasa lambat sekali waktu berlalu. Bukan tak pernah Amirul pulang lewat dari pejabatnya namun kali ini perasaannya terasa lain.
Handphonenya berbunyi. Hannah cepat-cepat mengangkatnya walaupun dia tahu kebarangkalian pemanggilnya Amirul adalah jauh sekali. Amirul sangat jarang menelefonnya.
"Hello, assalamualaikum."
Kedengaran suara seorang wanita di hujung talian.
"Waalaikumussalam," Hannah menjawab penuh debaran.
"Ni, isteri Encik Amirul, ke?"
"Ye saya." Hannah menjawab dengan penuh tanda tanya di kepala.
"Puan, saya nak mintak maaf kerana terpaksa memberitahu berita yang agak kurang enak. Suami puan terlibat dalam kemalangan jalan raya dan sekarang dia berada di wad kecemasan. Keadaannya agak parah..." kata-kata seterusnya bagaikan deruan angin yang berlalu tanpa dapat dihadam Hannah. Tubuhnya menggeletar.
"Ya Allah. Selamatkan suamiku..."
Kaki Amirul yang bersimen terasa perit. Lemah seluruh tubuhnya. Dr Reza memberitahunya bahawa tulang pahanya patah akibat kemalangan jalan raya selepas pulang menghantar Ros balik ke apartmentnya. Akibatnya dia mungkin tidak dapat berjalan buat sementara.
Ros. Sudah sebulan dia terlantar di hospital namun belum nampak kelibat Ros datang menziarahinya. Dicapai handphone di atas meja.
Panggilan pertama tidak diangkat. Dicuba sekali lagi.
"Hmm.. Hello," keluhan kecil kedengaran di penjuru telefon.
"Sayang, nape tak datang jenguk I? Dah lama I tunggu."
"Eh. You tu kan suami orang. Tak nak lah I kacau suami orang. You jangan contact I lagi!"
Talian telefon dimatikan. Amirul tergamam. Kepalanya terasa panas teringatkan kata-kata Ros. Digenggam kuat handphone di tangan.
Pintu bilik terbuka. Hannah masuk membawa sebekas air dan sehelai tuala. Dan senyuman yang tak pernah lekang tetap meniti di bibir manis itu.
"Abang dah bangun? Dah tengahari ni. Hannah lapkan badan abang, ye," tanpa menunggu jawapan balas, Hannah segera melakukan tugasnya membersihkan badan suami tercinta.
Amirul memandang dengan perasaan sebak. Tiada kudrat untuk menolak, memarahi jauh sekali. Hatinya bagai disentuh dengan kelembutan isterinya. Ya, isteri yang pernah ditengking, ditampar, disepak terajang, namun isteri itu juga yang tak pernah lelah menjaganya sepanjang dia di hospital. Menguruskan dirinya, makan minumnya, berak kencingnya tanpa sedikitpun menunjukkan perasaan geli atau tidak selesa.
Kata-kata Ros tadi kembali menyapa di ingatan. Hatinya pedih. Padahal di awal perkahwinannya, Ros lah yang banyak menghasutnya untuk berlaku kasar dengan isterinya. Ros lah yang sentiasa menggodanya untuk curang pada isterinya. Ros lah yang sentiasa meracuni fikiran Amirul dengan tanggapan bahawa isterinya adalah penyebab mereka tidak dapat bersama sehingga perasaan benci kepada isterinya bercambah-cambah.
Tapi kini, isterinya itu jualah yang menjadi peneman setia, menjaganya siang dan malam. Teman-teman sejoli yang keluar dengannya hampir setiap malam langsung tidak pernah menampakkan diri. Amirul kini benar-benar sedar siapa sebenarnya teman yang sebenar. Siapa yang menyayanginya dengan sebenar-benarnya. Dia yang dulunya buta. Bukan buta mata, tapi buta hati.
.................
Hannah terasa pening. Badannya yang semakin susut terasa lemah. Namun digagahkan diri untuk memasak lauk kegemaran suaminya.
Sudah 5 bulan berlalu semenjak suaminya kemalangan. Kini, dia sudah mula boleh berjalan sedikit demi sedikit. Hannah bahagia kini. Tangan kasar yang dulu selalu menamparnya kini sudah memegang tangannya mesra. Bibir yang dulunya tak pernah lelah mengherdiknya, kini tak lekang mengucapkan kata cinta.
Dia kini diberi peluang oleh Allah untuk menjaga suaminya yang terlantar kesakitan. Dulu suapannya ditepis, kini dia dapat menyuap makanan kepada suami setiap hari. Dia tak pernah makan dahulu jika suaminya belum makan. Setiap malam pasti dia akan bangun menyapukan ubat pada kaki suaminya jika suaminya mengerang kesakitan. Dia takkan pernah lena selagi mana suaminya belum tidur.
Hannah bahagia. Sejuta kesyukuran bertandang di hati melihat perubahan Amirul. Seorang suami yang pernah menamparnya apabila ditanya tentang solat sudah mula belajar untuk solat. Benarlah janji Allah, kesabarannya kini terbalas. Alhamdulillah.
Hannah membawa makanan ke bilik. Dilihat Amirul sedang membaca suratkhabar. Hannah menapak ke dalam bilik. Tiba-tiba terasa pandangannya gelap. Hannah jatuh pengsan.
.................
Hannah tersenyum melihat wajah yang dirinduinya. Ya, hanya dia.
"Abang," tangan lembut itu menyentuhnya.
"Kenapa abang menangis ni?" Hannah mengukir senyuman dan menyapu air mata yang mengalir di pipi suaminya. Air mata dari seorang lelaki yang dulunya mempunyai sekeping hati yang cukup keras. Namun kini, hati milik lelaki yang sama itu sangat mudah tersentuh. Jauh di sudut hati, Hannah bersyukur. Benarlah janji Tuhan, setiap ketentuan takdir pasti ada hikmah yang terhidang di hujung perjalanan. Kalau dulu mustahil untuk suaminya menyentuh tangannya, jauh sekali untuk memegang tangannya, kini tangan yang sama itu menggenggam erat jari-jemarinya tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskan.
"Abang mintak maaf sayang," Amirul mengucup jari jemari Hannah, membelai lembut dahi wanita di hadapannya. Terasa bebanan dosa yang teramat berat terpikul di bahu.
Tiba-tiba Hannah terasa ada sesuatu melekat di kerongkongnya. Namun digagahi juga diri untuk berbicara kepada suami tersayang.
"Abang, Hannah dah lama maafkan abang. Hannah sayang kat abang." Hannah berkata mesra.
Amirul menangis teresak-esak. Sudah gugur segala ego seorang lelaki. Pilu bercampur sebak yang amat ditambah penyesalan dalam diri yang menggunung. Menyesal di atas setiap perbuatannya terhadap Hannah. Menyesal dengan sikap dirinya yang benar-benar tidak tahu menghargai seorang isteri yang sangat baik terhadapnya.
"Jangan menangis, bang. Bukan salah abang pun. Mungkin Hannah yang tak pandai jaga diri dan tak pandai nak jaga abang, tak pandai nak ambik hati abang. Maafkan kekurangan diri Hannah ye, abang."
Terasa seperti bunyi sekuat guruh berdentum di sudut hati Amirul. Dia tak kuat. Dia rasa tewas. Tewas dengan bebanan perasaan bersalah yang cukup mendera di hati. Dia yang patut meminta maaf. Dia yang patut dipersalahkan. Keadaan Hannah yang lemah disebabkan terlalu penat dan terlalu bimbangkan dirinya tanpa menjaga kesihatan diri sendiri.
"Ya Allah. Butanya aku dengan kurniaanMu. Butanya aku satu ketika dulu. Ya Allah, berdosanya aku." Terasa ingin dihentak-hentak kepalanya ke lantai. Tak tergambar seribu penyesalan yang bersarang di hati.
"Uhuk!" terpercik darah ke atas selimut. Hannah terbatuk-batuk.
Amirul kaget. "Doktor! Doktor! Tolong isteri saya, doktor!"
Setelah dua minggu berada di hospital, Hannah menghembuskan nafasnya tepat pukul 3 petang.
Amirul terdiam di satu sudut. Tangannya menggenggam erat sebuah CD yang berselit nota di dalamnya. Pemberian Hannah sebelum mengucapkan kalimah syahadah buat kali terakhir. Jenazah Hannah selamat dikebumikan petang itu. Keluarga Amirul mengajaknya untuk pulang ke rumah keluarga, namun Amirul menolak. Dia ingin bersendirian.
Setibanya di hadapan rumah, kaki Amirul terasa berat untuk melangkah. Berat untuk melangkah masuk ke rumah yang kini kosong. Kosong tanpa disambut dengan senyuman mesra seorang isteri.
Amirul kembali terasa lemah. CD pemberian Hannah dimasukkan ke dalam player di dalam kereta. Sebuah lagu nasyid yang dimainkan cukup menyentuh perasaan. Amirul perlahan-lahan membuka nota yang terselit.
Buat suamiku yang sentiasa Hannah cintai,
Di saat abang membaca surat ini, mungkin Hannah sudah kembali menemui Ilahi. Namun, ini adalah pemberian kecil daripada Hannah. Maaf, Hannah tak sempat nak belikan hadiah untuk abang bersempena ulangtahun perkahwinan kita yang hampir tiba.
Abang,
Hampir setahun Hannah menjadi isteri abang. Hannah benar-benar bersyukur dengan setiap kurniaan Tuhan. Syukur Allah sudah menyediakan Hannah satu peluang yang besar untuk mengejar bayangan Syurga dengan memberikan Hannah kesempatan untuk menjaga abang sepanjang abang sakit.
Dalam hati Hannah, Hannah sentiasa berdoa moga Allah lembutkan hati abang, bukakan hati abang untuk kembali dekat pada Allah. Hannah tak pernah salahkan abang terhadap apa yang berlaku selama ini. Hannah yakin, Allah hadirkan Hannah untuk membimbing abang kembali ke jalan yang benar. Tapi, Hannah minta maaf jika hanya sedikit yang mampu Hannah bantu dengan keadaan diri yang lemah ini.
Abang,
Hannah benar-benar minta maaf kerana tak sempat nak berikan abang seorang cahaya mata buat peneman hidup abang. Hannah sentiasa meminta daripada Allah, tapi Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Maafkan Hannah, abang.
Abang jaga diri abang baik-baik. Hannah dah takde untuk jaga abang lagi. Halalkan segala makan minum Hannah selama Hannah bergelar isteri kepada abang. Abang, jangan lupa tunaikan solat, buat baik pada semua orang dan paling penting takutlah pada Allah. Jadilah seorang hamba yang sentiasa dekat dengan Allah.
Abang,
Jika satu hari nanti abang bertemu lagi dengan seorang wanita yang ingin abang jadikan sebagai isteri, sayangilah dia. Jangan sesekali berkasar dengannya kerana naluri seorang perempuan benar-benar mendambakan kasih sayang dan belaian mesra seorang suami.
Abang,
Lagu yang abang akan dengar dalam CD ni adalah sebuah lagu khas ditujukan buat abang. Sebenarnya lagu ni Hannah nak bagi selepas abang melafazkan kata sakinah selepas kita bernikah, namun tak berkesempatan. Abang dengarlah lagu ni dan ingatlah Hannah selalu.
Dulu, Hannah sentiasa menanti-nanti kepulangan abang di rumah. Hannah masakkan lauk pauk yang sedap dengan harapan mampu menggembirakan hati abang. Hannah teringin sangat nak makan bersama abang. Hannah teringin menyambut riang abang yang pulang dari kerja dan mendengar cerita-cerita kehidupan seharian abang. Hannah teringin untuk bergurau dan bermanja dengan abang setiap hari. Hannah teringin memeluk abang ketika tidur. Tapi, semua ni hanya tinggal angan-angan dan harapan Hannah. Waktu yang Allah sediakan buat Hannah tak cukup untuk Hannah buat semua ni.
Akhir kata, jaga diri abang. Hannah sentiasa doakan yang terbaik buat abang dan kehidupan abang selepas ini. Hannah dah maafkan segalanya yang berlaku. Doakan Hannah supaya sentiasa dalam redha Allah. Hannah sentiasa sayang dan cintakan abang, bermula dari saat abang melafazkan "aku terima nikahnya.." dan selama-lamanya.
Salam sayang daripada isterimu,
Hannah.
Amirul bersandar di kerusi kereta. Air mata bercucuran.
"Ya Allah..."
"Sabarlah, nak. Allah tahu apa yang terbaik buat Hannah. Hannah isteri yang baik. Dan dia dah cukup beruntung sebab dapat suami yang baik macam Amirul," ucapan bapa mertuanya tadi benar-benar terasa bagai halilintar menyapa ke telinga.
"Baik? Ya Allah, manusia hipokrit macam aku ni orang kata suami yang baik?" Amirul terasa ingin menjerit sekuatnya di situ, namun jeritannya hanya kedengaran di dalam hati.
Pintu bilik terbuka. Dr Reza memandang sekeliling dengan sebuah pandangan yang menimbulkan tanda tanya semua orang.
"Doktor, macam mana keadaan isteri saya?" Amirul bertanya dengan nada cemas.
Dr Reza memegang bahu Amirul.
"Keadaan Hannah sangat lemah. Mungkin disebabkan penat dan susah hati. Banyakkan berdoa. Kita harapkan Allah berikan yang terbaik buat dia."
Amirul tergamam.
Esakan mak ayah dan keluarga mertua makin kuat kedengaran. Amirul melangkah longlai ke dalam bilik. Yang kedengaran hanyalah hembusan nafas lemah bidadari yang terbaring lesu di depan mata.
"Duhai hati, kuatlah," bisik Amirul pada diri. Terasa pipinya basah.
Ditatap wajah itu. Wajah yang dulunya sentiasa ceria, bibir yang dulunya tak pernah lekang dengan senyuman namun kini wajah yang sama sudah sedikit pucat, kurus dan cengkung, bibir yang sama sudah sedikit kering dan merekah. Namun ketenangan yang sama tetap bertandang tiap kali memandang wajah isterinya. Ketenangan yang dulunya pernah cuba untuk dinafikan.
Hannah membuka mata perlahan-lahan. Wajah pertama yang dilihat adalah wajah yang begitu dirinduinya. Ya, hanya dia.
.................
Hannah tersenyum sendiri melihat ke jari manisnya.
"Dah jadi isteri orang rupanya aku ni. Alhamdulillah," Hannah tergelak kecil. Tiba-tiba pintu biliknya dibuka. Hannah terdiam. Perasaan berdebar-debar memenuhi dada tatkala Amirul masuk ke bilik.
"Ya Allah, sabar Hannah. Relaks, dia suami kau, lah," Hannah berkata-kata sendiri. Hatinya gundah gulana bila merasakan Amirul makin mendekat. Seorang lelaki yang telah sah menjadi suaminya. Seorang lelaki pilihan ibubapanya. Seorang lelaki yang tidak begitu dia kenal namun dia percaya bahawa pilihan ibubapanya pasti adalah yang terbaik buat dirinya. Dan istikharah cukup membuatkan dia yakin untuk menerima.
"Kau tak payah nak malu-malu lah, Hannah. Aku nak kau ingat satu hal, je. Aku kahwin dengan kau bukan sebab aku nak kat kau. Tapi sebab aku tak sampai hati nak sakitkan hati ibu yang dah berkenan sangat kat kau. Tak tahulah apa ilmu yang kau pakai sampai ibu sayang sangat kat kau ni. Hmm," rengus Amirul keras sambil menarik kasar bantal di atas katil dan menuju ke sofa di dalam bilik.
Hannah tergamam. Senyuman tadi terus hilang. Dia memandang perlahan-lahan ke arah suaminya yang berbaring di atas sofa. Ingin dia berkata sesuatu namun terasa anak tekaknya bagai tersekat daripada berbicara.
"Nanti kau nak tidur, tutup lampu. Aku tak suka tidur terang-terang." Amirul menyambung, "Kau jangan risaulah. Aku takkan sentuh kau. Bukannya cantik sangat pun. Dah lah pakai tudung labuh-labuh, hah! Kolotlah!"
Hati Hannah terusik. Setitis air mata jatuh ke pipi.
Setiap detik bahagia yang diangan-angankannya beberapa hari sebelum perkahwinannya berlangsung tiba-tiba bagai dilemparkan dengan cat hitam. Memadamkan segalanya.
Adakah dia sudah tersalah membuat pilihan? Adakah ketenangan yang terasa selepas istikharah semasa membuat keputusan untuk menerima Amirul adalah satu kesilapan?
"Astaghfirullah..." Hannah segera beristighfar. Syaitan yang datang mencucuk-cucuk untuk membuat sarang dosa.
Hannah menyapu sisa air mata. Dia kembali berfikir secara rasional. Setiap takdir Tuhan telah disusun dengan cukup indah. Setiap apa yang berlaku pasti ada rahsia yang akan tersingkap bila tiba masanya. Setiap dari hamba Allah bakal diuji setimpal dengan kudratnya. Dan Hannah yakin bahawa dia pun sedang diuji Tuhannya.
Mungkin Allah sedang menguji janji yang telah dia buat saat menerima lamaran. Janji pada diri sendiri untuk menjadi seorang isteri yang solehah buat lelaki yang tidak dia kenali dengan rapat. Janji untuk membenihkan perasaan cinta terindah buat lelaki yang halal bagi dirinya setelah dinikahi. Janji untuk bersedia bersabar dengan segala dugaan yang bakal mendatang sepanjang melayari bahtera kehidupan sebuah perkahwinan.
Hannah teringat pesan Kak Asmah ketika dia menceritakan tentang lamaran yang diterima melalui ibubapanya.
"Hannah, nikmatnya bila kita telah dipilih untuk melengkapkan agama dalam usia yang muda. Dan nikmatnya sebuah perkahwinan kerana ianya adalah sebuah lubuk untuk kita menambahkan pahala berlipat kali ganda. Tapi, akak nak Hannah selalu ingat. Bahtera perkahwinan ni sentiasa akan berhadapan dengan ombak yang bermacam-macam kekuatannya. Ada yang lembut, ada yang perlahan, ada yang kasar dan ada jugak yang ganas. Jadi, akak betul-betul harap Hannah bersedia nak hadapi semua ni tak kira bagaimana takdir yang Allah dah susun." Hannah mengangguk perlahan.
" Yang kita kena selalu tanamkan dalam diri adalah bukan meletakkan perkahwinan sebagai sebuah matlamat tapi kita minta pada Allah untuk mudahkan jalan menuju ke Syurga sebab Syurga adalah matlamat terakhir kita. Jika Allah berikan jalan untuk ke Syurga melalui sebuah perkahwinan dan ujian-ujian dalam melayari bahtera perkahwinan, jadi kita kena bersedia menghadapi semuanya dengan harapan akan mampu mencapai Syurga yang Allah dah janjikan. Yakinlah, Allah pasti menetapkan apa yang terbaik buat kita."
Kata-kata Kak Asmah menyapa diingatan. Hannah menarik nafas dalam.
"InsyaAllah, Allah pasti menyediakan apa yang terbaik buatku," Hannah menguatkan hatinya.
/>
Amirul memandang ke arah tingkap pejabatnya. Hari sudah menginjak petang. Staffnya sudah ramai yang pulang tapi hatinya berat untuk bergerak balik. Terasa malas untuk melihat wajah isterinya.
Hannah. Seorang wanita yang sederhana. Sopan santun dan memiliki tutur kata yang lembut. Walaupun wajahnya biasa saja tapi memang Amirul tak dapat nafikan, jauh di sudut hatinya dia tenang melihat isterinya yang bertudung labuh walaupun kurang pandai bergaya. Seorang yang cukup sabar melayan kerenahnya tanpa sedikitpun pernah meninggikan suara padanya. Melawan apatah lagi. Jauh sekali.
Amirul teringat, pernah dia sengaja pulang lewat hampir setiap malam selama seminggu kerana sengaja ingin membuatkan Hannah berkecil hati dan membencinya. Tapi bila sampai di rumah, dia terkejut apabila melihat Hannah masih sabar menunggu di ruang tamu. Dan apa yang terkadang membuat hatinya sedikit terusik adalah bila mana Hannah pasti menyambutnya dengan senyuman yang tak pernah lekang di bibir manis itu.
"Abang dah makan? Hannah ada masak lauk kegemaran abang. Nak Hannah panaskan, tak?"
Amirul merengus kasar. "Kau nak suruh aku makan malam-malam buta ni?! Kalau kau lapar, kau makanlah sendiri!" Amirul terus naik ke tingkat atas menuju ke bilik tanpa menghiraukan isterinya. Hatinya puas kerana berjaya mengherdik Hannah tanpa sedikitpun dia terfikir sama ada isterinya sudah makan atau belum.
Pernah satu masa ketika Amirul sedang menonton TV, Hannah datang sambil tersenyum padanya membawa sepinggan nasi goreng kegemarannya. Isteri yang ingin bermanja cuba untuk menyuap nasi itu ke mulutnya namun ditepis kasar oleh Amirul dan dengan tidak sengaja tertolak pinggan di tangan Hannah. Pinggan itu jatuh dan pecah berderai. Dengan linangan air mata, Hannah mengutip setiap butir nasi yang bertaburan di lantai. Amirul sekadar memandang tanpa simpati.
Amirul bukan saja pernah melukakan hati Hannah secara dalaman. Pernah juga pipi wanita itu ditampar dengan tangan kasarnya dek kerana Hannah bertanya adakah dia sudah solat. Solat? Satu perkataan yang sudah lama dipadamkan dalam kamus ingatannya.
Malam minggu itu, Amirul sedang bersiap-siap ingin keluar bersama kawan-kawan. Hannah yang baru selesai solat Isya' datang mendekatinya.
"Abang nak keluar, ye?"
"Suka hati akulah aku nak buat apa. Yang kau sibuk sangat duk bertanya tu, apehal? Kau bukan mak aku nak sibuk-sibuk sangat!" Amirul rasa serabut. Dia membetul-betulkan rambutnya.
"Em... tiap-tiap malam abang keluar balik lewat malam. Hannah bukan apa, bimbangkan abang. Lagipun..." Hannah teragak-agak. "...abang janganlah cari hiburan pada benda-benda yang Allah tak suka."
Hati Amirul panas. Ditendangnya Hannah dengan perasaan marah bercampur ego yang membuak-buak. Hannah menjerit kesakitan.
"Hoi! Kau jangan nak memandai nak ajar aku apa yang Allah suka, apa yang Allah tak suka! Kau tu ingat kau dah jamin dapat masuk Syurga ke? Duk berceramah je sana sini. Pergi lah jadi ustazah ke, ajar kat masjid tu. Memekak je!" Amirul bersuara lantang. Langsung tak menghiraukan Hannah yang mengerang kesakitan memegang perutnya yang disepak tadi sambil menangis teresak-esak. Terus ditinggalkan Hannah bersendirian.
Walaupun pelbagai kekasaran telah dia lakukan pada Hannah, namun isterinya tetap melayannya sebaik mungkin tanpa sedikitpun menunjukkan riak tanda kebencian. Pernah ibubapa mertuanya datang ke rumah dan Amirul cuba berlagak biasa untuk menyembunyikan kegusaran di hati. Dia tahu Hannah pasti mengadu kepada mertuanya apa yang telah berlaku dalam rumahtangga mereka. Namun sangkaannya jauh meleset. Apabila ditanya, Hannah tersenyum ceria dan berkata dia cukup bahagia dengan rumahtangganya.
Lamunan Amirul terhenti bila handphonenya berbunyi. Nama yang tertera di screen sudah cukup membuat dia terasa bahagia.
Amirul tersenyum menghilangkan bayangan wajah isterinya. Sekarang yang dirindui adalah kekasih hatinya, Ros. Wanita yang benar-benar dia cintai, wanita yang ingin dikahwininya kalau bukan disebabkan tentangan keluarga.
Baginya jika Hannah tidak menerima lamaran daripada keluarganya, pasti lebih mudah untuk umi dan abahnya menerima Ros. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya.
Benar, dia sedar Ros adalah seorang wanita yang kuat bersosial. Dengan memiliki aset wajah yang jelita, Ros adalah seorang wanita yang diidamkan ramai lelaki. Namun, Amirul yakin jika selepas mereka berkahwin, pasti secara automatik Ros akan mengurangkan aktiviti sosialnya. Itu tanggapan Amirul.
"Hello sayang. Jadi tak malam ni kita keluar?" suara manja Ros kedengaran.
"Mestilah jadi. You tunggu I. Dalam setengah jam I sampai. Kat office lagi ni," Amirul membalas sampai menarik tali leher yang terasa rimas.
"Okey, see you later. Love you," Ros menjawab dengan tawa kecil.
"Okey, love you too."
Amirul bangun dan mengambil kunci kereta. Tak sabar ingin bertemu kekasih hati.
.................
Hannah terasa hatinya kurang enak. Entah kenapa dia rasa berdebar-debar ketika menyediakan makan malam untuk suaminya. Jam menunjukkan pukul 11.30 malam. Terasa lambat sekali waktu berlalu. Bukan tak pernah Amirul pulang lewat dari pejabatnya namun kali ini perasaannya terasa lain.
Handphonenya berbunyi. Hannah cepat-cepat mengangkatnya walaupun dia tahu kebarangkalian pemanggilnya Amirul adalah jauh sekali. Amirul sangat jarang menelefonnya.
"Hello, assalamualaikum."
Kedengaran suara seorang wanita di hujung talian.
"Waalaikumussalam," Hannah menjawab penuh debaran.
"Ni, isteri Encik Amirul, ke?"
"Ye saya." Hannah menjawab dengan penuh tanda tanya di kepala.
"Puan, saya nak mintak maaf kerana terpaksa memberitahu berita yang agak kurang enak. Suami puan terlibat dalam kemalangan jalan raya dan sekarang dia berada di wad kecemasan. Keadaannya agak parah..." kata-kata seterusnya bagaikan deruan angin yang berlalu tanpa dapat dihadam Hannah. Tubuhnya menggeletar.
"Ya Allah. Selamatkan suamiku..."
Kaki Amirul yang bersimen terasa perit. Lemah seluruh tubuhnya. Dr Reza memberitahunya bahawa tulang pahanya patah akibat kemalangan jalan raya selepas pulang menghantar Ros balik ke apartmentnya. Akibatnya dia mungkin tidak dapat berjalan buat sementara.
Ros. Sudah sebulan dia terlantar di hospital namun belum nampak kelibat Ros datang menziarahinya. Dicapai handphone di atas meja.
Panggilan pertama tidak diangkat. Dicuba sekali lagi.
"Hmm.. Hello," keluhan kecil kedengaran di penjuru telefon.
"Sayang, nape tak datang jenguk I? Dah lama I tunggu."
"Eh. You tu kan suami orang. Tak nak lah I kacau suami orang. You jangan contact I lagi!"
Talian telefon dimatikan. Amirul tergamam. Kepalanya terasa panas teringatkan kata-kata Ros. Digenggam kuat handphone di tangan.
Pintu bilik terbuka. Hannah masuk membawa sebekas air dan sehelai tuala. Dan senyuman yang tak pernah lekang tetap meniti di bibir manis itu.
"Abang dah bangun? Dah tengahari ni. Hannah lapkan badan abang, ye," tanpa menunggu jawapan balas, Hannah segera melakukan tugasnya membersihkan badan suami tercinta.
Amirul memandang dengan perasaan sebak. Tiada kudrat untuk menolak, memarahi jauh sekali. Hatinya bagai disentuh dengan kelembutan isterinya. Ya, isteri yang pernah ditengking, ditampar, disepak terajang, namun isteri itu juga yang tak pernah lelah menjaganya sepanjang dia di hospital. Menguruskan dirinya, makan minumnya, berak kencingnya tanpa sedikitpun menunjukkan perasaan geli atau tidak selesa.
Kata-kata Ros tadi kembali menyapa di ingatan. Hatinya pedih. Padahal di awal perkahwinannya, Ros lah yang banyak menghasutnya untuk berlaku kasar dengan isterinya. Ros lah yang sentiasa menggodanya untuk curang pada isterinya. Ros lah yang sentiasa meracuni fikiran Amirul dengan tanggapan bahawa isterinya adalah penyebab mereka tidak dapat bersama sehingga perasaan benci kepada isterinya bercambah-cambah.
Tapi kini, isterinya itu jualah yang menjadi peneman setia, menjaganya siang dan malam. Teman-teman sejoli yang keluar dengannya hampir setiap malam langsung tidak pernah menampakkan diri. Amirul kini benar-benar sedar siapa sebenarnya teman yang sebenar. Siapa yang menyayanginya dengan sebenar-benarnya. Dia yang dulunya buta. Bukan buta mata, tapi buta hati.
.................
Hannah terasa pening. Badannya yang semakin susut terasa lemah. Namun digagahkan diri untuk memasak lauk kegemaran suaminya.
Sudah 5 bulan berlalu semenjak suaminya kemalangan. Kini, dia sudah mula boleh berjalan sedikit demi sedikit. Hannah bahagia kini. Tangan kasar yang dulu selalu menamparnya kini sudah memegang tangannya mesra. Bibir yang dulunya tak pernah lelah mengherdiknya, kini tak lekang mengucapkan kata cinta.
Dia kini diberi peluang oleh Allah untuk menjaga suaminya yang terlantar kesakitan. Dulu suapannya ditepis, kini dia dapat menyuap makanan kepada suami setiap hari. Dia tak pernah makan dahulu jika suaminya belum makan. Setiap malam pasti dia akan bangun menyapukan ubat pada kaki suaminya jika suaminya mengerang kesakitan. Dia takkan pernah lena selagi mana suaminya belum tidur.
Hannah bahagia. Sejuta kesyukuran bertandang di hati melihat perubahan Amirul. Seorang suami yang pernah menamparnya apabila ditanya tentang solat sudah mula belajar untuk solat. Benarlah janji Allah, kesabarannya kini terbalas. Alhamdulillah.
Hannah membawa makanan ke bilik. Dilihat Amirul sedang membaca suratkhabar. Hannah menapak ke dalam bilik. Tiba-tiba terasa pandangannya gelap. Hannah jatuh pengsan.
.................
Hannah tersenyum melihat wajah yang dirinduinya. Ya, hanya dia.
"Abang," tangan lembut itu menyentuhnya.
"Kenapa abang menangis ni?" Hannah mengukir senyuman dan menyapu air mata yang mengalir di pipi suaminya. Air mata dari seorang lelaki yang dulunya mempunyai sekeping hati yang cukup keras. Namun kini, hati milik lelaki yang sama itu sangat mudah tersentuh. Jauh di sudut hati, Hannah bersyukur. Benarlah janji Tuhan, setiap ketentuan takdir pasti ada hikmah yang terhidang di hujung perjalanan. Kalau dulu mustahil untuk suaminya menyentuh tangannya, jauh sekali untuk memegang tangannya, kini tangan yang sama itu menggenggam erat jari-jemarinya tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskan.
"Abang mintak maaf sayang," Amirul mengucup jari jemari Hannah, membelai lembut dahi wanita di hadapannya. Terasa bebanan dosa yang teramat berat terpikul di bahu.
Tiba-tiba Hannah terasa ada sesuatu melekat di kerongkongnya. Namun digagahi juga diri untuk berbicara kepada suami tersayang.
"Abang, Hannah dah lama maafkan abang. Hannah sayang kat abang." Hannah berkata mesra.
Amirul menangis teresak-esak. Sudah gugur segala ego seorang lelaki. Pilu bercampur sebak yang amat ditambah penyesalan dalam diri yang menggunung. Menyesal di atas setiap perbuatannya terhadap Hannah. Menyesal dengan sikap dirinya yang benar-benar tidak tahu menghargai seorang isteri yang sangat baik terhadapnya.
"Jangan menangis, bang. Bukan salah abang pun. Mungkin Hannah yang tak pandai jaga diri dan tak pandai nak jaga abang, tak pandai nak ambik hati abang. Maafkan kekurangan diri Hannah ye, abang."
Terasa seperti bunyi sekuat guruh berdentum di sudut hati Amirul. Dia tak kuat. Dia rasa tewas. Tewas dengan bebanan perasaan bersalah yang cukup mendera di hati. Dia yang patut meminta maaf. Dia yang patut dipersalahkan. Keadaan Hannah yang lemah disebabkan terlalu penat dan terlalu bimbangkan dirinya tanpa menjaga kesihatan diri sendiri.
"Ya Allah. Butanya aku dengan kurniaanMu. Butanya aku satu ketika dulu. Ya Allah, berdosanya aku." Terasa ingin dihentak-hentak kepalanya ke lantai. Tak tergambar seribu penyesalan yang bersarang di hati.
"Uhuk!" terpercik darah ke atas selimut. Hannah terbatuk-batuk.
Amirul kaget. "Doktor! Doktor! Tolong isteri saya, doktor!"
Setelah dua minggu berada di hospital, Hannah menghembuskan nafasnya tepat pukul 3 petang.
Amirul terdiam di satu sudut. Tangannya menggenggam erat sebuah CD yang berselit nota di dalamnya. Pemberian Hannah sebelum mengucapkan kalimah syahadah buat kali terakhir. Jenazah Hannah selamat dikebumikan petang itu. Keluarga Amirul mengajaknya untuk pulang ke rumah keluarga, namun Amirul menolak. Dia ingin bersendirian.
Setibanya di hadapan rumah, kaki Amirul terasa berat untuk melangkah. Berat untuk melangkah masuk ke rumah yang kini kosong. Kosong tanpa disambut dengan senyuman mesra seorang isteri.
Amirul kembali terasa lemah. CD pemberian Hannah dimasukkan ke dalam player di dalam kereta. Sebuah lagu nasyid yang dimainkan cukup menyentuh perasaan. Amirul perlahan-lahan membuka nota yang terselit.
Buat suamiku yang sentiasa Hannah cintai,
Di saat abang membaca surat ini, mungkin Hannah sudah kembali menemui Ilahi. Namun, ini adalah pemberian kecil daripada Hannah. Maaf, Hannah tak sempat nak belikan hadiah untuk abang bersempena ulangtahun perkahwinan kita yang hampir tiba.
Abang,
Hampir setahun Hannah menjadi isteri abang. Hannah benar-benar bersyukur dengan setiap kurniaan Tuhan. Syukur Allah sudah menyediakan Hannah satu peluang yang besar untuk mengejar bayangan Syurga dengan memberikan Hannah kesempatan untuk menjaga abang sepanjang abang sakit.
Dalam hati Hannah, Hannah sentiasa berdoa moga Allah lembutkan hati abang, bukakan hati abang untuk kembali dekat pada Allah. Hannah tak pernah salahkan abang terhadap apa yang berlaku selama ini. Hannah yakin, Allah hadirkan Hannah untuk membimbing abang kembali ke jalan yang benar. Tapi, Hannah minta maaf jika hanya sedikit yang mampu Hannah bantu dengan keadaan diri yang lemah ini.
Abang,
Hannah benar-benar minta maaf kerana tak sempat nak berikan abang seorang cahaya mata buat peneman hidup abang. Hannah sentiasa meminta daripada Allah, tapi Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Maafkan Hannah, abang.
Abang jaga diri abang baik-baik. Hannah dah takde untuk jaga abang lagi. Halalkan segala makan minum Hannah selama Hannah bergelar isteri kepada abang. Abang, jangan lupa tunaikan solat, buat baik pada semua orang dan paling penting takutlah pada Allah. Jadilah seorang hamba yang sentiasa dekat dengan Allah.
Abang,
Jika satu hari nanti abang bertemu lagi dengan seorang wanita yang ingin abang jadikan sebagai isteri, sayangilah dia. Jangan sesekali berkasar dengannya kerana naluri seorang perempuan benar-benar mendambakan kasih sayang dan belaian mesra seorang suami.
Abang,
Lagu yang abang akan dengar dalam CD ni adalah sebuah lagu khas ditujukan buat abang. Sebenarnya lagu ni Hannah nak bagi selepas abang melafazkan kata sakinah selepas kita bernikah, namun tak berkesempatan. Abang dengarlah lagu ni dan ingatlah Hannah selalu.
Dulu, Hannah sentiasa menanti-nanti kepulangan abang di rumah. Hannah masakkan lauk pauk yang sedap dengan harapan mampu menggembirakan hati abang. Hannah teringin sangat nak makan bersama abang. Hannah teringin menyambut riang abang yang pulang dari kerja dan mendengar cerita-cerita kehidupan seharian abang. Hannah teringin untuk bergurau dan bermanja dengan abang setiap hari. Hannah teringin memeluk abang ketika tidur. Tapi, semua ni hanya tinggal angan-angan dan harapan Hannah. Waktu yang Allah sediakan buat Hannah tak cukup untuk Hannah buat semua ni.
Akhir kata, jaga diri abang. Hannah sentiasa doakan yang terbaik buat abang dan kehidupan abang selepas ini. Hannah dah maafkan segalanya yang berlaku. Doakan Hannah supaya sentiasa dalam redha Allah. Hannah sentiasa sayang dan cintakan abang, bermula dari saat abang melafazkan "aku terima nikahnya.." dan selama-lamanya.
Salam sayang daripada isterimu,
Hannah.
Amirul bersandar di kerusi kereta. Air mata bercucuran.
"Ya Allah..."
Merokok adalah senjata Yahudi yang paling berjaya, nak tahu kenapa?
Sebabnya :
✔ Mana ada orang hisap rokok bermula dgn BISMILLAH..!
✔ Mana ada selepas habis merokok ucap ALHAMDULILLAH..!
✔ Menyalakan api adalah kesukaan syaitan...!
✔ Meletakkan jari di mulut adalah amalan Yahudi...!!
✔ Mengepit 2 jari pada rokok adalah melambangan salib...!
SAUDARA2ku SEKALIAN... BERHENTILAH MEROKOK.....
(̅_̅_̅_̅(̅_̅_̅_̅_̅_̅_̅_̅_̅̅_̅()ڪےhidup lebih sihat tanpa merokok...
Alhamdulillah..hargai lah nyawa anda ......
【ツ】Kenali Hati Seorang Wanita 【ツ】
1. Sensitif : Bukan bermaksud suka merajuk, t...api hanya ingin
bermanja dan mendapatkan perhatian.
2. Cerewet : Bukan bermaksud FUSSY tak tentu hala, kadang ingin
LELAKI mengikut kata-katanya sekali sekala.
3. Halus : Ibarat sehelai sutera, cantik, mulus, lembut dan mudah
tercarik dan koyak. Walaupun seorang wanita memaafkan seseorang yang
lain atas sebab sesalahan, biasanya WANITA akan ingat kesalahan
tersebut untuk disimpan jadi pengajaran. Bukan DENDAM.
4. Ikhlas : Ikhlas seorang wanita tak perlu diragui.
5. Korban : WANITA sanggup berkorban apa saja untuk seseorang yang
amat disayangi, termasuk ibu bapa, anak-anak dan suami. WANITA amat
tabah.
6. Prihatin : Sentiasa memerhatikan keadaan sekeliling dalam diam.
7. Manja : Walaupun dia adalah seorang WANITA yang pandai berdikari,
naluri seorang WANITA masih lagi tetap seorang WANITA. Suka bermanja
bukan hanya kepada insan yang bernama LELAKI , namun juga sesama
kaum.
8. Ego : WANITA yang terlalu sayangkan kekasihnya sanggup menolak
ketepi EGOnya apabila bersemuka dengan yang dicintai.
9. Cinta : CINTA pertama bagi wanita adalah yang paling dalam dan
tulus.
10. Seks : SEKs bukanlah segala-galanya buat WANITA kerana WANITA
diciptakan dengan 9 nafsu dan satu akal. NAFSU yang banyak dan tidak
tertumpu kepada satu saja. LELAKI pula dijadikan dengan 9 akal dan
satu nafsu. Fungsi lelaki adalah membimbing WANITA dan bukan
menghanyutkannya.
Peranan LELAKI dalam kehidupan WANITA adalah sebagai pelindung
dan bukan sebagai pemusnah.
WANITA diciptakan oleh ALLAH swt dari tulang rusuk kiri dan untuk
dipeluk dan dimanja, bukan untuk dikasari.
Maka lelaki haruslah memahami HATI dan PERASAAN WANITA
Monday, January 30, 2012
Kata-Kata Selembut Rasa Cinta
Apabila Allah inginkan kebaikan kepada sebuah rumah tangga, maka dberikannya kelembutan dalam interaksi dan komunikasi sesama anggotanya. Itulah petanda yang sangat ketara dan dapat dirasai bukan sahaja oleh mereka tetapi bagi orang lain yang melihatnya.
Cinta dan kasih sayang umpama mentari, cahayanya boleh dilihat oleh sesiapa sahaja yang punya mata. Bersyukur jika kelembutan itu ada dalam rumah tangga kita, kerana itu petanda kebaikan berada bersama kita.
"Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan." (HR. Muslim)
Malangnya, kini semakin sering terdengar betapa kelembutan itu semakin hilang. Tutur kata yang kasar, bahasa yang kesat dan suara yang tinggi sudah semakin lumrah di antara suami isteri.
Mengapa suami ku suka membentak? Mengapa sejak akhir-akhir ini isteri ku sudah mula menjerit-jerit? Suaranya menjadi tinggi, bahasanya menjadi kesat sekali, mengapa? Itulah antara keluhan yang samada diluahkan atau dipendamkan dalam sebuah rumah tangga.
Ah, betapa manusia semakin lupa bahawa sifat lemah-lembut itu bukan sahaja diperlukan di dunia, bahkan diperlukan di akhirat. Syurga itu disedikan untuk mereka yang lemah lembut dalam sikap dan tutur kata. Rasulullah saw telah bersabda:
"Mahukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang diharamkan dari neraka atau neraka diharamkan atasnya? Yaitu atas setiap orang yang dekat (dengan manusia), lemah lembut, lagi memudahkan." (HR. Tirmidzi)
Mengapa frekuensi suara pasangan suami isteri boleh meninggi? Mana bisikan cinta dan luahan rasa yang mendayu-dayu seperti mula-mula dahulu? Mengapa suara dinyaringkan padahal jarak fizikal antara mereka begitu hampir? Ya, mengapa perlu menjerit dan membentak pada hal mereka cuma duduk bersebelahan? Apakah telinga sudah tuli atau lidah kehilangan tenaga untuk berkata-kata?
Hati Telah Menjauh
Jawabnya mudah, itu semua kerana hati telah menjauh. Walaupun jasad masih dekat, jeritan, bentakan dan herdikan diperlukan apabila dua hati sudah menjarak. Justeru, hanya jeritan nyaring sahaja mampu merentasi jarak dua hati yang telah jauh itu!
Berbeza jika cinta masih ada dan menyala-nyala. Ketika itu dua hati masih berpadu. Satu bisikan sudah cukup untuk memperdengarkan dan didengari. Jarak cinta masih sangat hampir. Cuba bayangkan sepasang suami isteri yang asyik dilamun cinta, suara mereka berbicara hanya didengar oleh mereka berdua. Justeru 'alat komunikasi' yang sebenarnya bukan gajet-gajet teknologi tetapi hati.
Alat Komunikasi Alam Rumah Tangga
Hati adalah alat komunikasi yang sangat canggih dengan syarat hati itu bersih. Cuba lihat bagaimana cara orang-orang soleh berkomunikasi dengan Allah lewat doanya. Suaranya perlahan, lembut, mendayu-dayu, merayu-rayu, penuh rasa harap dan malu.
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-A'raf 55-56)
Dan itulah jua asas dan teras komunikasi Allah dengan hambaNya. Sabda Rasulullah s.a.w:
"Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara." (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Oleh kerana itulah nama-nama Tuhan sangat rapat dengan sifatNya yang Maha Lembut- Ar Rahman, Ar Rahim, Al Latif, Al A'fu, Al Ghafar dan lain-lain.
Komunikasi Memerlukan Mata & Hati
Perlu diingat, komunikasi bukan hanya menggunakan telinga dan mulut, tetapi menggunakan mata dan hati. Kita perlu memandang orang yang sedang berdepan dengan kita. Jangan hanya kata-kata kita tujukan kepadanya. Pandang dengan kasih sayang. Hati itu jendela bagi hati. Justeru, pertautan mata bermakna pertautan hati. Bahasa mata dan hati inilah yang dikenali sebagai bahawa rasa. Itulah bahasa sejagat yang mempunyai nada dan melodi yang sangat harmoni.
Mata sangat diperlukan dalam komunikasi cinta. Oleh itu pandanglah mata pasangan kita, lalu berbicaralah dengan mata dan kata-kata, pasti hati kita dan dia akan bertaut... Ya, sekiranya di hati kita berdua masih ada cinta.
Namun, jika kita tidak mampu lagi merenung matanya, dan bicara kita hanya dengan kata-kata dan telinga, itu petanda cinta sudah terguris.
"Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, tidaklah sifat itu dicabut dari sesuatu, melainkan dia akan membuatnya menjadi buruk." (HR. Muslim)
Pasti ada yang tidak kena di mana-mana. Cuba lihat orang yang berbohong, cuba amat-amati orang yang khianat, dan telitilah sikap orang yang benci, mereka tidak akan mampu menatap mata orang yang mereka bohongi, khianati dan benci. Maka begitulah bila mata tidak turut serta dalam komunikasi antara suami dan isteri, salah seorang atau keduanya, besar kemungkinan sudah terguris hatinya!
Cuba baca sejarah Rasulullah yang agung. Bagaimana baginda berbicara dengan sesiapa sahaja di hadapannya. Matanya, gerak tubuhnya, bahasanya begitu meyakinkan. Orang yang menjadi teman bicaranya rasa dihargai, disayangi dan diberi perhatian. Bila baginda berpaling, baginda memalingkan keseluruhan badannya (bukan hanya mukanya).
Nada suaranya lembut kecuali apabila menyampaikan nasihat tentang neraka dan ancaman-ancaman dosa. Matanya merenung penuh kasih. Baginda bukan hanya menghantar mesej pakej komunikasinya sepadu dengan rasa kasih-sayang, empati, dan cinta.
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali Imran: 159)
Para suami dan isteri, contohilah hati Rasulullah yang penuh cinta, insyaAllah akan lembutlah suara dan harmonilah kata-kata. Meskipun peribadi baginda terlalu tinggi untuk didaki, tidak mengapa... jika kita sekadar mampu meniru 'di hujung kuku'.
Cuba hayati nasihat Rasulullah ini. Anggaplah Rasulullah sedang mengingatkan kita ketika baginda menasihati isterinya:
"Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya." (HR. Al-Bukhari)
Tidak ada insan lain yang paling berhak mendengar suara cinta dan bahasa kasih kita melainkan pasangan kita! Jangan berikan pada insan lain, sebelum kita berikan kepada suami atau isteri kita.
Jika tidak, hati pasangan kita akan 'lari menjauh' walaupun mungkin tubuh badannya masih sebumbung dengan kita.
"Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (Qs. Ali Imran: 159)
Bahasa Menggambarkan Jiwa
Janganlah memperdengarkan jeritan jika bisikan sudah mampu didengar. Bahasa adalah jiwa bangsa – maksudnya, bahasa itu boleh menggambarkan jiwa. Walaupun sifat hati tidak ketara tetapi kata-kata akan membuka rahsia. Jika hati baik, tutur kata menjadi lembut, bahasa menjadi indah dan nadanya menjadi merdu. Jika hati jahat, tutur kata menjadi keras, bahasa menjadi kasar dan nadanya menjadi celaru.
Kita hanya merosakan diri sendiri dengan bahasa yang kasar berbanding orang yang kita tujukan kata-kata itu. Bahasa yang kasar datang daripada kebencian. Sesungguhnya kebencian itu akan merosakkan diri sendiri berbanding dengan orang yang kita bencikan. Sebaliknya jika bahasa kita baik, itu datang dari rasa cinta. Dan cinta akan memberi kebaikan kepada diri sebanyak mana yang akan diterima oleh orang yang kita cintai!
Dalam Al-Quran ALLAH memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berkata lembut kepada Firaun seperti mana firman-Nya dalam surah Thaha ayat 44:
"Berbicaralah kalian berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Ya, para Rasul wajib menebarkan rasa kecintaan bukan kebencian.
Rasulullah saw telah bersabda:
"Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi mencintai kelembutan. Dia memberikan pada sifat kelembutan yang tidak diberikan kepada sifat kekerasan, dan tidak pula diberikan kepada sifat-sifat yang lainnya." (HR. Muslim)
Cinta mampu kembara merentasi ruang dan masa. Cinta adalah soal hati yang tidak mampu dipisahkan oleh jarak dan zaman. Cinta boleh melangkaui dimensi dan generasi. Justeru kita boleh mencintai Allah, yang tidak menyerupai sebarang makhlukNya. Kita boleh mencintai Rasulullah yang hidup ribuan tahun yang lalu. Kita boleh mencintai para sahabat dan para ulama silam yang tidak hidup sezaman dengan kita.
Mengapa Cinta Itu Ajaib?
Itulah ajaibnya cinta. Ia adalah satu kekuatan yang sangat luar biasa kerana ia bertapak di hati, yakni 'raja' dalam kerajaan diri manusia. Apabila ada cinta, kita boleh berkomunikasi dan berintraksi walaupun dengan alat-alat perhubungan yang terhad. Cinta menimbulkan kemahuan yang sangat kuat dan bertenaga.
Namun, apabila tidak ada cinta... segalanya akan lesu dan kaku. Hati hilang keinginan, hasrat dan tenaga untuk berkomunikasi dengan tulus, telus dan harmoni.
Bila kita kehilangan bahasa dalam bercinta, itulah petanda cinta itulah yang sebenar telah hilang! Tanpa cinta kita kehilangan makna, sedangkan makna itulah yang melahirkan bahasa... Bukankah makna cinta itu hadir dulu di dalam jiwa, kemudian barulah lahir ungkapan, aku cinta pada mu!
Cinta dan kasih sayang umpama mentari, cahayanya boleh dilihat oleh sesiapa sahaja yang punya mata. Bersyukur jika kelembutan itu ada dalam rumah tangga kita, kerana itu petanda kebaikan berada bersama kita.
"Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan." (HR. Muslim)
Malangnya, kini semakin sering terdengar betapa kelembutan itu semakin hilang. Tutur kata yang kasar, bahasa yang kesat dan suara yang tinggi sudah semakin lumrah di antara suami isteri.
Mengapa suami ku suka membentak? Mengapa sejak akhir-akhir ini isteri ku sudah mula menjerit-jerit? Suaranya menjadi tinggi, bahasanya menjadi kesat sekali, mengapa? Itulah antara keluhan yang samada diluahkan atau dipendamkan dalam sebuah rumah tangga.
Ah, betapa manusia semakin lupa bahawa sifat lemah-lembut itu bukan sahaja diperlukan di dunia, bahkan diperlukan di akhirat. Syurga itu disedikan untuk mereka yang lemah lembut dalam sikap dan tutur kata. Rasulullah saw telah bersabda:
"Mahukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang diharamkan dari neraka atau neraka diharamkan atasnya? Yaitu atas setiap orang yang dekat (dengan manusia), lemah lembut, lagi memudahkan." (HR. Tirmidzi)
Mengapa frekuensi suara pasangan suami isteri boleh meninggi? Mana bisikan cinta dan luahan rasa yang mendayu-dayu seperti mula-mula dahulu? Mengapa suara dinyaringkan padahal jarak fizikal antara mereka begitu hampir? Ya, mengapa perlu menjerit dan membentak pada hal mereka cuma duduk bersebelahan? Apakah telinga sudah tuli atau lidah kehilangan tenaga untuk berkata-kata?
Hati Telah Menjauh
Jawabnya mudah, itu semua kerana hati telah menjauh. Walaupun jasad masih dekat, jeritan, bentakan dan herdikan diperlukan apabila dua hati sudah menjarak. Justeru, hanya jeritan nyaring sahaja mampu merentasi jarak dua hati yang telah jauh itu!
Berbeza jika cinta masih ada dan menyala-nyala. Ketika itu dua hati masih berpadu. Satu bisikan sudah cukup untuk memperdengarkan dan didengari. Jarak cinta masih sangat hampir. Cuba bayangkan sepasang suami isteri yang asyik dilamun cinta, suara mereka berbicara hanya didengar oleh mereka berdua. Justeru 'alat komunikasi' yang sebenarnya bukan gajet-gajet teknologi tetapi hati.
Alat Komunikasi Alam Rumah Tangga
Hati adalah alat komunikasi yang sangat canggih dengan syarat hati itu bersih. Cuba lihat bagaimana cara orang-orang soleh berkomunikasi dengan Allah lewat doanya. Suaranya perlahan, lembut, mendayu-dayu, merayu-rayu, penuh rasa harap dan malu.
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-A'raf 55-56)
Dan itulah jua asas dan teras komunikasi Allah dengan hambaNya. Sabda Rasulullah s.a.w:
"Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara." (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Oleh kerana itulah nama-nama Tuhan sangat rapat dengan sifatNya yang Maha Lembut- Ar Rahman, Ar Rahim, Al Latif, Al A'fu, Al Ghafar dan lain-lain.
Komunikasi Memerlukan Mata & Hati
Perlu diingat, komunikasi bukan hanya menggunakan telinga dan mulut, tetapi menggunakan mata dan hati. Kita perlu memandang orang yang sedang berdepan dengan kita. Jangan hanya kata-kata kita tujukan kepadanya. Pandang dengan kasih sayang. Hati itu jendela bagi hati. Justeru, pertautan mata bermakna pertautan hati. Bahasa mata dan hati inilah yang dikenali sebagai bahawa rasa. Itulah bahasa sejagat yang mempunyai nada dan melodi yang sangat harmoni.
Mata sangat diperlukan dalam komunikasi cinta. Oleh itu pandanglah mata pasangan kita, lalu berbicaralah dengan mata dan kata-kata, pasti hati kita dan dia akan bertaut... Ya, sekiranya di hati kita berdua masih ada cinta.
Namun, jika kita tidak mampu lagi merenung matanya, dan bicara kita hanya dengan kata-kata dan telinga, itu petanda cinta sudah terguris.
"Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, tidaklah sifat itu dicabut dari sesuatu, melainkan dia akan membuatnya menjadi buruk." (HR. Muslim)
Pasti ada yang tidak kena di mana-mana. Cuba lihat orang yang berbohong, cuba amat-amati orang yang khianat, dan telitilah sikap orang yang benci, mereka tidak akan mampu menatap mata orang yang mereka bohongi, khianati dan benci. Maka begitulah bila mata tidak turut serta dalam komunikasi antara suami dan isteri, salah seorang atau keduanya, besar kemungkinan sudah terguris hatinya!
Cuba baca sejarah Rasulullah yang agung. Bagaimana baginda berbicara dengan sesiapa sahaja di hadapannya. Matanya, gerak tubuhnya, bahasanya begitu meyakinkan. Orang yang menjadi teman bicaranya rasa dihargai, disayangi dan diberi perhatian. Bila baginda berpaling, baginda memalingkan keseluruhan badannya (bukan hanya mukanya).
Nada suaranya lembut kecuali apabila menyampaikan nasihat tentang neraka dan ancaman-ancaman dosa. Matanya merenung penuh kasih. Baginda bukan hanya menghantar mesej pakej komunikasinya sepadu dengan rasa kasih-sayang, empati, dan cinta.
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali Imran: 159)
Para suami dan isteri, contohilah hati Rasulullah yang penuh cinta, insyaAllah akan lembutlah suara dan harmonilah kata-kata. Meskipun peribadi baginda terlalu tinggi untuk didaki, tidak mengapa... jika kita sekadar mampu meniru 'di hujung kuku'.
Cuba hayati nasihat Rasulullah ini. Anggaplah Rasulullah sedang mengingatkan kita ketika baginda menasihati isterinya:
"Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya." (HR. Al-Bukhari)
Tidak ada insan lain yang paling berhak mendengar suara cinta dan bahasa kasih kita melainkan pasangan kita! Jangan berikan pada insan lain, sebelum kita berikan kepada suami atau isteri kita.
Jika tidak, hati pasangan kita akan 'lari menjauh' walaupun mungkin tubuh badannya masih sebumbung dengan kita.
"Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (Qs. Ali Imran: 159)
Bahasa Menggambarkan Jiwa
Janganlah memperdengarkan jeritan jika bisikan sudah mampu didengar. Bahasa adalah jiwa bangsa – maksudnya, bahasa itu boleh menggambarkan jiwa. Walaupun sifat hati tidak ketara tetapi kata-kata akan membuka rahsia. Jika hati baik, tutur kata menjadi lembut, bahasa menjadi indah dan nadanya menjadi merdu. Jika hati jahat, tutur kata menjadi keras, bahasa menjadi kasar dan nadanya menjadi celaru.
Kita hanya merosakan diri sendiri dengan bahasa yang kasar berbanding orang yang kita tujukan kata-kata itu. Bahasa yang kasar datang daripada kebencian. Sesungguhnya kebencian itu akan merosakkan diri sendiri berbanding dengan orang yang kita bencikan. Sebaliknya jika bahasa kita baik, itu datang dari rasa cinta. Dan cinta akan memberi kebaikan kepada diri sebanyak mana yang akan diterima oleh orang yang kita cintai!
Dalam Al-Quran ALLAH memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berkata lembut kepada Firaun seperti mana firman-Nya dalam surah Thaha ayat 44:
"Berbicaralah kalian berdua kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Ya, para Rasul wajib menebarkan rasa kecintaan bukan kebencian.
Rasulullah saw telah bersabda:
"Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi mencintai kelembutan. Dia memberikan pada sifat kelembutan yang tidak diberikan kepada sifat kekerasan, dan tidak pula diberikan kepada sifat-sifat yang lainnya." (HR. Muslim)
Cinta mampu kembara merentasi ruang dan masa. Cinta adalah soal hati yang tidak mampu dipisahkan oleh jarak dan zaman. Cinta boleh melangkaui dimensi dan generasi. Justeru kita boleh mencintai Allah, yang tidak menyerupai sebarang makhlukNya. Kita boleh mencintai Rasulullah yang hidup ribuan tahun yang lalu. Kita boleh mencintai para sahabat dan para ulama silam yang tidak hidup sezaman dengan kita.
Mengapa Cinta Itu Ajaib?
Itulah ajaibnya cinta. Ia adalah satu kekuatan yang sangat luar biasa kerana ia bertapak di hati, yakni 'raja' dalam kerajaan diri manusia. Apabila ada cinta, kita boleh berkomunikasi dan berintraksi walaupun dengan alat-alat perhubungan yang terhad. Cinta menimbulkan kemahuan yang sangat kuat dan bertenaga.
Namun, apabila tidak ada cinta... segalanya akan lesu dan kaku. Hati hilang keinginan, hasrat dan tenaga untuk berkomunikasi dengan tulus, telus dan harmoni.
Bila kita kehilangan bahasa dalam bercinta, itulah petanda cinta itulah yang sebenar telah hilang! Tanpa cinta kita kehilangan makna, sedangkan makna itulah yang melahirkan bahasa... Bukankah makna cinta itu hadir dulu di dalam jiwa, kemudian barulah lahir ungkapan, aku cinta pada mu!
Subscribe to:
Posts (Atom)




